SUKA DUKA MUDIK
Posted 09-09-2010 13:30Risma Budiyani
Selama bertahun-tahun saya sudah tahu bagaimana rasanya mudik. Tersiksa di dalam mobil di tengah-tengah kemacetan parah yang mengular, dan bahkan saya tidak pernah tahu kapan akan berakhir. Saya tetap saja tergoda untuk mengulang pengalaman yang sama setiap tahunnya. Walau berkali-kali saya sudah bersumpah tidak akan mau lagi mudik. Anehnya setiap sepuluh hari terakhir Ramadhan menjelang Idul Fitri. Hati saya selalu saja terketuk untuk mudik.
Sekalipun dari jauh-jauh hari saya sudah menguatkan hati untuk tidak mudik. Tetap saja, hati saya melumer dengan cepat seiring dengan mulai berakhirnya Ramadhan. Dan akhirnya tahun ini saya mudik.
Spirit Mudik, seperti sudah mendarah daging dalam diri saya dan keluarga. Rasanya tidak lengkap lebaran tanpa mudik. Walau sebetulnya sebagian besar keluarga kami sudah beranak-pinak di Jakarta. Namun kerinduan pada tanah kelahiran orang tua saya di Purworejo seperti memanggil-manggil saya setiap tahunnya.
Mudik bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia adalah ritual penting dalam merayakan Lebaran. Rasanya tidak lengkap lebaran tanpa mudik. Setiap tahunnya terjadi eksodus manusia besar-besaran dari kota besar menuju kota kecil. Jakarta yang penuh, tiba-tiba menjadi lengang karena kehilangan hampir 70 persen dari warganya yang merayakan lebaran bersama sanak-famili di kampung halaman.
Semua orang yang merasa memiliki kampung halaman merasa terpanggil untuk mudik. Tak peduli berapa banyak rupiah, waktu dan tenaga yang harus dikorbankan demi mencapai kampung halaman. Segala daya upaya dikerahkan, dari antri tiket bis, kereta, pesawat dan kapal laut, menyewa kendaraan, mengendarai motor, bahkan tidak sedikit yang menggunakan kendaraan untuk mencari nafkah seperti bajaj ataupun angkut. Subhanallah!
Ritual mudik pun menjadi berkah bagi banyak orang. Pemilik kendaraan sewaan, restoran pinggir jalan, calo, bahkan pemilik rumah di pinggir jalan yang dilalui jalur mudik. Tiba-tiba bertebaran penjual-penjual makanan dan minuman karbitan yang menangguk untung di musim mudik.
Kemarin malam saya meninggalkan istana saya di kawasan Bintaro..
(Read More)
Developer Survey Reveals Greater Linux Development
Posted 11-06-2010 16:41Rio Yotto Uniwaly
Eclipse Foundation survey shows Linux development up, Windows down.
The Eclipse Foundation has released its 2010 Eclipse Community Surveyresults, which reveal an interesting snapshot of one slice of the development community.
Taking the results at face value, the likely respondent from the 1696 total is a male programmer who works for a high-tech company with fewer than 100 employees. Oh, and their favorite IDE is some flavor of Eclipse.
Which, of course, reveals one huge bias in this report: though non-Eclipse users could participate in the survey, the report's creators freely stipulate that most respondents were users of Eclipse and therefore answers would be biased accordingly. I'm not knocking this bias--in fact, I have higher respect for surveys like this when they are up front about such things. But it's nonetheless important to point out the context of these results, since this is just one sector of the larger developer community.
Clearly, the results that will be getting the most play in the tech media will be the rise of Linux as a favored platform for development. This year, 32.7 percent of respondents cited Linux as their development platform, up 5.8 percent from 2009, and 12.7 percent from the 2007 survey.
And, the second half of the news will surely be that this increase comes at the cost of Windows development, which has seen a steady decrease in platform participation: in 2007, 73.8 percent preferred Windows; in 2009, it was 64.3 percent; and this year just 58.3 percent listed Windows as their favorite operating system.
Okay, I'll admit it: the Schadenfreude is starting to flow.
And while these are cool results, let's keep in mind that these respondents are Eclipse developers, so this could also signify what we have been hearing for some time: that Eclipse is getting better as a tool set on Linux than..
(Read More)
Stabilisasi Kebutuhan Pokok
Posted 03-02-2010 05:16KHUDORI
Dalam beberapapekan inimediamassadi Tanah Air intens melaporkan kesulitan ekonomi yang dialamimasyarakatgolongan ekonomi kecil. Mereka tidak hanya didera harga-harga pangan (beras, gula, terigu,danminyak goreng) yang terus melangit, tapi juga digerusbiaya kesehatan dan pendidikanyang takterjangkau.Harga beras, gula dan minyak goreng pekan ketiga Januari 2010 naik 10-15% ketimbang Oktober lalu.Warga antreberas, guladan minyak goreng dalam operasi pasar jadisesuatu yanglumrah.
Mau tidak mau, mereka harus merealokasi keranjang pengeluaran.Pertama, dana pendidikan dan kesehatan dipangkas, lalu dialihkan ke pangan.Ini terjadi karena 60-80% pengeluaran keluarga miskin tersedot untuk pangan. Atau, kedua, jumlah dan frekuensi makan dikurangi.Jenis pangan inferior (murah dengan kandungan energi-protein rendah) jadi pilihan. Dampaknya, konsumsi energi dan protein menurun. Bagi orang dewasa, ini berpengaruh pada produktivitas kerja dan kesehatan. Buat ibu hamil/menyusui dan anak balita akan berdampak buruk pada perkembangan kecerdasan anak. Terbayang akan lahir generasi IQ jongkok, dan SDM yang tak bisa bersaing dalam kompetisi yang kian ketat.
Pemerintah merancang strategi stabilisasi harga kebutuhan pokok. Minyak goreng dangula disubsidi. Sedangkan subsidi terigu dan kedelai -lewat pembebasan PPN-tidak lagi diberikan seperti rentang tahun 2008-2009. Bahkan, untuk menjamin keberhasilan stabilisasiharga pangan pemerintah menambah subsidisebesarRp 8,2 triliun. Tambahan anggaran inidialokasikan untuk pengadaanberas untuk rakyat miskin (raskin), stabilisasi harga minyak goreng,guladanpupuk.Jadi, dalamAPBN-P 2010 total subsidi nonenergi naik dari Rp 51,3 triliunmenjadi Rp 59,5 triliun.Penyaluran raskin juga dipercepat.
Untuk meredam harga, pemerintah menggelaroperasi pasar. Pertanyaannya, bisakah operasi pasar..
(Read More)
Mudik hemat, cermat Lebaran Jadi Asyik
Posted 24-08-2010 08:12Dewi Suspa Blogs
Mudik merupakan tradisi yang sudah membudaya di nusantara. Mudik alias pulang kampung yang berulang setiap tahun senantiasa menjadi momen yang ditunggu, untuk bisa bertemu keluarga besar, sanak saudara dan handai taulan.
Tidak dipungkiri mudik terjadi akibat urbanisasi yang dulu-dulu dilakukan untuk mencari penghidupan yang lebih baik, atau karena mutasi kerja. Kini dengan label merayakan lebaran Idul Fitri atau Idul Adha, Natal, maupun Imlek hingga Gap Go Meh, bahkan Ziarah Kubur, mudik-pun ditunggu sebagai alasan untuk menegakan kembali nilai agama dan nilai kekeluargaan untuk bersilahturahmi, menghormati orang tua ataupun leluhur.
[caption id="attachment_81" align="alignnone" width="377" caption="Mudik, hemat, cermat, cerdik lebaran jadi asyik"][/caption]
Secara sosiologis, mudik juga memberikan sisi positif, yaitu menunjukkan keberhasilan seseorang pada keluarga dan kerabatnya. Mereka yang sukses diperantauan atau dikota bisa berbagi pengalaman. Dari segi ekonomi perputaran uang-pun secara cepat bisa langsung beredar ke desa-desa hingga dusun terpencil sekalipun. Ini bisa juga bisa dikategorikan sebagai pemasukan bagi daerah karena biasanya saat mudik para keluarga akan menghabiskan dana untuk berlibur bersama di tempat-tempat wisata yang ada didaerah mereka.
Sebenarnya pemaknaan “desa” dan “tradisional” merupakan kata yang sangat mengandung nilai-nilai kearifan, adapun kata “kota” dan “modern” cenderung lebih disamakan dengan nilai-nilai “need for achievement”. Manfaat mudik dari segi sosial sebenarnya lebih banyak untuk membangun relasi antara masayarakat kota dan desa yang bersifat primordial terutama dalam mengatasi masalah tenaga kerja dari desa yang dibutuhkan di kota.
Keberhasilan kerabat atau saudara di kota akan lebih mudah ditularkan kepada masyarakat lain..
(Read More)
Dewasa Menghadapi Malaysia Dan Singapura
Posted 18-08-2010 04:20Win M. Adab
menurut pak Fadel Muhammad, kalangan menengah hingga elit malaysia sangat respek kepada Indonesia. sedangkan kelas bawah malaysia tidak respek karena tidak update informasi mengenai Indonesia. kalangan bawah malaysia tahunya Indonesia adalah TKI dan kemiskinan. kalangan bawah malaysia inilah sumber masalah. kali ini saya sependapat dengan pak menteri. elit malaysia sadar progress Indonesia. elit malaysia tdk menutup mata bahwa Indonesia masuk klub elit ekonomi dunia G-20 dengan PDB nomor 20 dunia (tertinggi di asean). tidak ada alasan bagi elit malaysia untuk melecehkan Indonesia.
saya pernah membuat rundown wawancara metro tv dengan mantan pm mahatir mohamad 2 tahun yg lalu. pertanyaan yang saya buat adalah, bagaimana pandangan anda atas posisi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi nomor 20 dunia dan masuk klub elit G-20? mr M menjawab, selamat Indonesia, Indonesia layak mendapatkannya.
hal yg sama juga terjadi di singapura. dalam sebuah forum pertemuan wartawan dengan menlu singapura di gedung kemenlu singapura (2008), saya bertanya kepada menlu george yeo mengapa pesawat singapura sering melintasi perbatasan Indonesia. mr yeo dengan tegas membantah hal itu terjadi. menurutnya singapura tidak memiliki alasan merusak hubungan dengan negeri tetangga. secara tak langsung mr yeo jg menjelaskan konsep pertahanan udang berbisa (poison shrimp defense) ; kemajuan dan kemakmuran negara tetangga justru pertahanan bagi singapura.
saya sadar, kita orang Indonesia lebih mirip negara besar yg kekanak-kanakan. kurang percaya diri. dan lebih suka memamerkan borok sendiri (kemiskinan dan keterbelakangan) sebagai wajah utuh Indonesia. hasilnya, perasaan rendah diri dan cenderung galak tidak pada tempatnya. perasaan rendah diri sebagian orang Indonesia ini kadang bertemu dengan perasaan arogan kelas bawah malaysia yg ‘ketinggalan informasi’ mengenai Indonesia. inilah sumber masalahnya. harus ada kampanye ‘remarkable indonesia’ di kalangan bawah malaysia. agar mereka tdk hanya tahu kemiskinan Indonesia, tapi juga tahu bahwa jumlah orang terkaya Indonesia lebih banyak daripada jumlah orang terkaya malaysia (forbes 2010). sebaliknya, orang Indonesia harus diajari agar tidak..
(Read More)