Rebranding Proyek Properti
Mulai membaiknya kondisi perekonomian Indonesia membawa pengaruh pada kembali menggeliatnya sektor properti. Proyek-proyek baru banyak bermunculan, baik yang benar-benar baru, maupun proyek lama yang kini tampil dengan wajah baru. Yah, di tengah derap gairah dunia properti, kita melihat tak sedikit juga proyek properti lama yang melakukan rebranding, mengganti nama atau tagline proyeknya.
Di kawasan Serpong misalnya, belakangan kita mengenal nama proyek Paramount Lakes yang dikembangkan oleh kelompok pengembang Paramount Serpong. Kita tahu, sebelum itu kawasan tersebut tadinya dikembangkan oleh kelompok pengembang Ambassador Gading Serpong. Seiring dengan perubahan kepemilikan dan konsep pengembangan kawasannya, pengembang baru melakukan rebranding untuk nama proyek properti di kawasan tersebut dengan nama baru, Paramount Lakes.
Masih di kawasan Serpong, kita dulu juga mencatat proyek properti raksasa yang sudah lebih dulu berkembang, yakni Kota Mandiri International BSD. Seiring dengan dinamika jaman, proyek dengan skala kota itu kini sudah berubah nama menjadi BSD City.
Untuk menggantikan nama Kota Mandiri International BSD yang dirasakan terlalu panjang dan sulit diingat. Nama BSD City dinilai dapat merepresentasikan skala proyek yang merangkum konsep & tema pengembangan skala kotayang dimiliki dengan segmen pasar lokal dan internasional.
Lain lagi dengan apa yang dilakukan oleh kelompok Bakrieland Development. Saat ini mereka juga sedang getol untuk mengenalkan proyek terbaru mereka, Rasuna Epicentrum. Karena juga dibangun di kompleks Rasuna, megaproyek superblok ini tampaknya akan melengkapi imej Apartemen Taman Rasuna yang sudah lebih dulu dikenal di kawasan tersebut.
Perubahan nama bisa juga dilakukan lantaran berubahnya konsep perumahan yang ingin dikembangkan oleh pengembang. Hal itulah yang dilakukan PT. Copylas Indonesia ketika mengubah nama proyeknya dari tadinya bernama Mega kebon Jeruk menjadi Puri Botanical Residence. Dengan perubahan nama tersebut pengembang berharap bisa menawarkan kawasan hunian dengan nuansa seperti Kebun Raya Bogor.
Pengembang Agung Podomoro Group pun menggunakan jurus rebranding untuk mengembangkan salah satu proyek properti andalan mereka, Senayan City. Sebelum akhirnya proyek yang berdiri di kawasan Senayan ini populer dengan nama Senayan City, tadinya properti mixed used ini bernama The Forum.
Kalau diurut sebenarnya masih banyak lagi pengembang yang mengganti brand proyek properti mereka, tentu dengan berbagai alasan. Katakanlah apa yang dilakukan PT. Summarecon Agung Tbk. yang mengganti nama dua proyek mereka, Kelapa Gading Permai menjadi Summarecon Kelapa Gading, serta Gading Serpong menjadi Summarecon Serpong. Di luar itu masih ada Kota Cikarang Hijau yang berubah menjadi Jababeka City, Lippo City menjadi Lippo Cikarang, Lippo Village menjadi Lippo Karawaci, Pakuwon Laguna menjadi Pakuwon City, dan lain sebagainya.
Lantas berapa dana yang harus digelontorkan para pengembang tersebut dalam upaya mereka melakukan rebranding? Angka 5 persen dari total penjualan konon telah dianggarkan PT.Summarecon Agung Tbk untuk proses rebranding proyek mereka di Kelapa Gading dan Serpong. Itu berarti nilainya bisa mencapai Rp 50 miliar. Prosentase angka yang sama juga disebut untuk rebranding Senayan City.
Tapi lain lagi dengan jurus yang ditempuh BSD City untuk menekan biaya rebranding mereka. Biaya yang dikeluarkan perubahan ini tidak banyak, karena sejalan dengan pemasaran proyek dilakukan secara bertahap. Pada saat mencetak brosur baru, kartu nama dan lain-lain setelah stok lama habis baru dipakai nama baru tsb. Pada saat perpanjangan ijin reklame dan perawatan dilakukan pergantian nama, dan seterusnya secara bertahap.
Di era yang makin modern ini, nilai properti memang tak semata ditentukan oleh lokasi maupun wujud fisik bangunan yang ditawarkan. Di balik itu ada hal kecil yang tak boleh dilupakan, yakni imej yang bisa bermuara kepada kepercayaan konsumen. [dedi nurtanio]
Baca juga : Jalan Panjang Rebranding
Popularity: 2% [?]








