Pengelolaan air : Seaweed Treatment Plant
Konsep green realestat pada sebuah kawasan hunian tidak bisa diukur dari banyaknya lahan hijau yang disediakan pengembang semata. Tetapi lebih dari itu, bagaimana si pengembang mampe mengoptimalkan anugrah alam sebagai sesuatu yang given serta bagaimana mereka mengelola limbah rumah Tangga. Berikut sebuah kawasan hunian yang concern pada aspek lingkungannya.
Baru-baru ini diadakan national sanitation summit 2008 di Balai Kartini yang merupakan wujud perhatian pemerintah untuk sanitasi dan efeknya terhadap lingkungan. Di dalam pertemuan ini, Lippo Karawaci menjadi role model dalam studi banding terkait pengelolaan sanitasi yang baik. Lippo Karawaci dinilai baik dalam pengembangan sanitasi, karena pengembang telah memperhatikan dan mempersiapkan pengelolaan sanitasi hunian sejak awal dibangunnya hunian ini.
Seaweed Treatment Plant (STP) merupakan upaya pengembang untuk memproses air limbah rumah tangga penghuni menjadi air bersih yang kembali dapat dimanfaatkan. Setiap rumah di Lippo Karawaci dilengkapi oleh sebuah pipa utama yang menghubungkannya langsung dengan STP untuk diolah. Adapun air limbah yang diolahnya setiap hari mencapai 11.000 m3 per harinya. Setelah diproses beberapa tahap, maka hasil pengolahan yang terbentuk adalah hasil cair dan hasil padat. Hasil cairan dapat dimanfaatkan diantaranya untuk dialirkan ke danau-danau untuk mencegah kekeringan, sebagai cairan pengurai dalam proses pembuatan pupuk kompos dan sebagai cadangan air untuk penyiraman taman. Sedangkan hasil padat akan dijadikan sebagai pupuk kompos untuk penyubur tanaman.
Area Resapan Air
Sebagai pendukung area resapan air, pengembang juga mengoptimalisasikan sistem drainase pada kawasan hunian ini. Sistem drainase ini mampu menampung air dalam skala besar yakni 100 kali kadar air dalam curah hujan berukuran normal.
Melalui area resapan air ini, maka secara tidak langsung akan berdampak baik pada keseimbangan ekosistem karena mampu memberikan kesempatan tanah untuk meningkatkan cadangan air dengan kualitas yang baik.
Pengelolaan Sampah
Pengembang telah melakukan upaya pemanfaatan limbah rumah tangga warga, dengan dilakukannya proses pendaur-ulangan sampah warga. Upaya recycle ini telah dilakukan sejak tahun 2006, yakni dengan mendaur ulang 5% dari total sampah yang ada. Upaya ini coba ditingkatkan di tahun 2008, dengan mengolah ulang sampah sebesar 20% dari total keseluruhan sampah.
Upaya sinergis yang dilakukan oleh pengembang dalam pengelolaan hunian yang ramah lingkungan coba dikembangkan oleh pengembang dengan kerja sama warga masyarakat. Warga penghuni dilarang melakukan penebangang atau tindakan lain yang mampu menghilangkan tumbuhan dan pepohonan yang telah tertanam di area perumahan. Tidak hanya itu, pengembang juga melaksanakan program “Tress for Life” yang melibatkan anak-anak dan warga untuk menanam pohon-pohon di area Lippo Karawaci. Untuk mensukseskan keterlibatan warga ini, pengembang melakukan upaya sosialisasi melalui majalah, sms dan flier yang memuat informasi mengenai hal ini.
Pantai Mutiara
Kepedulian pengembang pada lingkungan sekitar juga dilakukan oleh Perumahan Mewah pantai Mutiara, Ancol, Jakarta. Sekalipun berlokasi di tepi pantai, pengembang ingin selalu menghadirkan suasana yang tetap sejuk dan nyaman bagi warga penghuninya. Upaya kearah sana, pengembang diantaranya menerapkan konsep pendekatan ramah lingkungan. Diantaranya, pengembang memaksimalkan 40% lahannya sebagai areal hijau, sedangkan sisanya untuk bangunan perumahan dan fasilitas publik.
Sebagaimana problem perumahan dimanapun, pengembang juga concern terhadap masalah sampah atau limbah rumah tangga. Untuk itu, mereka telah menyediakan tim khusus yang menangani sampah rumah tangga. Kemudian oleh mereka sampah dipisahkan mana yang organik, dan mana yang an-organik. Sampah organik diolah yang hasilnya berupa kompos untuk kepentingan perawatan tanaman di perumahan. Sementara yang an-organik langsung dibuang ke Bantar Gebang.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warganya, pengembang disamping mengelola sumber air bersih, sebagian yang lain kebutuhan air dipasok dari PAM Palyja. Air hujan oleh estat management tidak dialirkan ke laut melainkan diserapkan taua dikembalikan ke dalam bumi. Upaya ini mereka lakukan dengan tidak mengaspal jalanan di seputar komplek hunian, melainkan dengan memasang conblock yang lebih enviromental friendly.
Popularity: 1% [?]








